C’Tra Arena, panggung pesta Stapac atau kebangkitan Satria Muda

Bandung (ANTARA) – GOR C’Tra Arena Bandung bakal menggelar laga kedua final IBL 2018-2019, pada Sabtu malam, yang kembali mempertemukan Stapac Jakarta dengan Satria Muda Pertamina.

Stapac saat ini memegang keunggulan 1-0 atas Satria Muda setelah mempecundangi lawannya itu di kandangnya sendiri, GOR BritAma Arena, Jakarta, dengan skor kemenangan 79-68, pada Kamis (21/3) lalu.

Jika Stapac berhasil memenangi laga kedua, tim yang kini dinakhodai oleh pelatih Giedrius Zibenas itu bakal menahbiskan diri sebagai juara IBL 2018-2019.

Sebaliknya, kalau Satria Muda yang meraih kemenangan, mereka akan menyamakan kedudukan final menjadi 1-1 dan memaksakan laga ketiga digelar di C’Tra Arena pada Minggu (24/3).

Kedudukan 1-0 praktis menjadi modal kuat bagi Stapac menyongsong laga kedua, setelah mereka membuktikan bahwa tak harus tampil di arena yang berstatus kandang pribadi untuk meraih kemenangan atas seterunya tersebut.

Baca juga: Stapac berjaya di markas Satria Muda, reguk kemenangan final pertama

Publik Bandung, dalam beberapa tahun terakhir hanya diwakili tim “penggembira” liga karena prestasi tak seberapa Garuda Bandung maupun setelah mereka bertransformasi menjadi Prawira Bandung sejak musim ini.

Namun, Sabtu ini mereka berkesempatan untuk menjadi saksi sebuah tengara bersejarah baik itu keberhasilan Stapac meraih gelar juara lewat kemenangan dua laga langsung ataupun momentum kebangkitan Satria Muda dalam upayanya menegaskan status juara bertahan.

Lampaui target

“Stapac ingin mencapai final karena sudah empat tahun lamanya mereka absen dari final. Itu yang dikatakan manajemen tim kepada saya ketika saya mendarat di Indonesia,” kata Zibenas selepas memimpin sesi latihan di C’Tra Arena pada Jumat (22/3) petang sehari jelang laga kedua final.

Jelas sudah, pelatih asal Lithuania itu sudah mampu melunasi target yang dibebankan kepadanya ketika ia menerima pekerjaan di Stapac.

Namun, tentu saja, sebagai seorang atlet dan insan olahraga, semangat bersaing adalah salah satu syarat untuk bisa meninggalkan catatan berwujud prestasi.

Hal itu, diakui juga oleh Zibenas yang mengamini bahwa ia sendiri tentu ingin mendapatkan hasil maksimal bagi Stapac di musim debutnya melatih klub IBL.

“Buat saya pribadi maupun para atlet pasti ingin mendapatkan hasil tertinggi. Wajar bagi setiap atlet maupun insan olahraga,” ujarnya.

Sebelum memperoleh kemenangan di markas Satria Muda dalam laga pertama final, Zibenas sebetulnya sudah memiliki modal yang tak kalah mentereng.

Baca juga: Empat sorotan dari kemenangan Stapac di final pertama

Sepanjang musim reguler, Stapac jadi tim yang hampir sempurna karena memiliki torehan 17 kemenangan dalam 18 pertandingan. Satu-satunya kekalahan mereka derita di laga pembuka musim, yang kala itu boleh jadi terpengaruh juga akibat absennya tiga pilar yakni Abraham Damar Grahita, Agassi Goantara dan Kaleb Ramot Gemilang.

Belum lagi kala itu Stapac belum mendapatkan pemain asing yang klop dengan pola permainan arahan Zibenas.

Kini ketiga nama di atas bukan saja sukses membantu Stapac mencapai final, tapi mendapatkan penghargaan atas capaian pribadi masing-masing.

Agassi dinobatkan sebagai Debutan (Rookie) Terbaik, Abraham Pemain Cadangan (Sixthman) Terbaik dan Kaleb sebagai Pemain Terbaik (MVP) untuk IBL 2018-2019.

Bukan saja tiga orang itu, Widyantaputra Teja yang menjadi salah satu andalan Gibenas selama mengarungi musim ini juga menyabet gelar sebagai Pemain Paling Meningkat IBL 2018-2019.

Modal catatan hampir sempurna, pilar sarat penghargaan personal dan keunggulan 1-0, berpadu dengan kehadiran dua pemain asing Stapac yang sejauh ini berkontribusi penuh yakni Savon Goodman dan Kendal Yancy.

Semua modal itu tentu bakal membesarkan peluang Gibi –demikian sapaan akrab ZIbenas– melampaui target yang dibebankan Stapac kepadanya.

Bukan saja ambisi pemilik sekaligus manajer Stapac Irawan Haryono untuk kembali mencapai final setelah empat musim absen bisa tercapai, tetapi juga berakhirnya puasa gelar juara mereka yang berusia serupa.

Baca juga: Stapac tajamkan strategi jelang laga kedua final

Kebangkitan tanpa tekanan

Sementara Stapac seperti sudah meletakkan satu tangannya ke trofi IBL 2018-2019, Satria Muda berada dalam posisi terjepit.

Berstatus juara bertahan, Satria Muda harus melewati jalan terjal dan berbatu untuk mencapai final. Lolos ke playoff dengan modal pas-pasan berupa sembilan kemenangan dan sembilan kekalahan (9-9) saja sudah menjadi rekor yang bakal menebarkan aroma pesimisme di antara pemain Satria Muda.

Hal itu diperburuk dengan cederanya Jamarr Andre Johnson yang membuat slot dua pemain asing Satria Muda kini hanya tersisa satu di pundak Dior Lowhorn.

Ditambah lagi, kekalahan di markas sendiri tentu akan menjadi satu beban tambahan lain bagi Satria Muda menghadapi laga final kedua.

Pun demikian, pelatih Youbel Sondakh justru menilai timnya akan tampil lepas tanpa beban di laga kedua final.

“Mustinya tidak ada pressure di gim kedua,” kata Youbel seusai menelan kekalahan 68-79 di BritAma Arena, sebelum menambahkan bahwa tampil di kandang sendiri justru menambah beban bagi para pemainnya.

Youbel merupakan bagian tim Satria Muda yang berhasil bangkit dari dua kali keadaan tertinggal di rangkaian final IBL 2007 sebelum mereka akhirnya sukses menjadi juara berkat kemenangan di laga kelima dengan kedudukan akhir 3-2 melawan Putra Riau, salah satu nama yang sempat disandang Stapac dalam perjalanan panjang mereka di kompetisi basket Indonesia.

Bahkan Youbel kemudian dinobatkan sebagai MVP dua musim beruntun berikutnya selepas keberhasilan itu.

Baca juga: Youbel Sondakh: masih ada dua gim ke depan

Tentu saja, pengalaman itu harus ia terjemahkan dan tularkan ke para pemainnya jika ingin mempertahankan gelar juara musim ini.

Meski tantangannya akan berbeda ketika mengendalikan bola sendiri di atas lapangan dengan memberikan arahan dan meracik strategi di tepian.

Di sisi lain, kapten Satria Muda Arki Dikania Wisnu juga dibebani rekor negatif pribadi dalam tiga pertemuan melawan Stapac di IBL 2018-2019.

Dalam tiga pertandingan tersebut, pemain yang sempat menimba ilmu basket di Amerika Serikat itu selalu tak bisa membela Satria Muda hingga bel tanda laga usai berbunyi karena terlebih dulu diusir wasit akibat lima melakukan pelanggaran.

Khusus untuk kasus Arki, Youbel menilai bahwa pemainnya punya sedikit tren setiap kali di laga sebelumnya terkena foul out ia akan tampil habis-habisan dan menunjukkan performa luar biasa di pertandingan berikutnya.

“Terakhir kali dia foul out, gim berikutnya tampil luar biasa, Lebih tough. Semoga itu juga terjadi nanti,” kata Youbel.

Youbel bisa saja sedang menerapkan ilmu cocoklogi ala netizen yang budiman, tetapi sekecil apapun sumber harapan harus dipupuk oleh Satria Muda dan diwujudkan menjadi pendorong hasil maksimal.

Boleh jadi, kebangkitan performa Arki memang menjadi titik balik nasib Satria Muda yang kini bak telur di ujung tanduk.

Pada akhirnya, sekali lagi, publik C’Tra Arena bakal menjadi saksi apakah mereka bakal menyimak pesta juara Stapac atau momentum kebangkitan Satria Muda.

Baca juga: Sehari jelang final, Stapac latihan penuh, Satria Muda cuma pemulihan
Baca juga: Stapac sembunyikan strategi bendung “full-court press” Satria Muda

 

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019