Cerita Toleransi WNI Peserta AIYEP Tinggal dengan Keluarga Australia

Bendigo – Peserta program pertukaran pemuda Australia dan Indonesia atau Australia-Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) dari Indonesia akan tinggal bersama host family mereka kurang lebih dua bulan di negeri kanguru itu. Terselip cerita tentang indahnya toleransi peserta WNI dengan keluarga Australianya.

Rivana Amelia (23) merupakan salah satu peserta AIYEP, mengaku sangat suka ketika hidup bersama host family-nya. Sebagai muslim dari Aceh, Amel, sapaannya, merasa sangat dihargai.

“Pengalaman paling seru saya dari semua aktivitas, ketika tinggal bersama host family. Di situ saya benar-benar merasakan pertukaran budaya. Kadang kalau ada party, mereka dengan budaya mereka, mereka tetap minum tapi mereka provide saya, karena saya muslim dan tidak minum, mereka menyediakan mocktail. Terasa banget saling toleransi,” tutur Amel di Bendigo Botanic Gardens, Bendigo, Australia, Minggu (25/11/2018).

Cerita soal toleransi tak sebatas bagaimana Amel dan keluarga Australianya saling menghargai soal minuman beralkohol. Ketika waktu salat tiba, Amel mengaku selalu diingatkan keluarga Australia itu.

“Di sini susah cari makanan halal tapi mereka selalu berusaha buat saya, sediain makanan halal. Biarpun mereka mau makan babi, tapi mereka tetap masakin yang halal,” sebut Amel.

“Terus ketika salat, ketika kita lagi wisata nggak ada tempat solat di Sovereign Hill, dan bapak saya, host dad saya, cariin tempat saya buat salat sampai ngomong ke manajernya buat nyediain tempat solat. Jadi mereka yang ingetin saya, ‘oh udah waktu salat, kamu harus cari tempat salat’,” tutur Amel yang merupakan Bendahara AIYEP angkatan 37 itu.

Amel mengaku mendapat banyak pengetahuan tentang kebiasaan Australia dari program AIYEP. Salah satunya soal kebiasaan warga Australia saat makan.

“Saya tahu keseharian orang Australia seperti apa, gimana mereka bicara. Mereka kalau makan duduk bersama, nggak ada tv. Kia bicara apa yang terjadi di hari itu, ngapain aja dan kehangatan keluarga terasa,” sebutnya.

Angela Clemson, (50) host mum dari Amel, mengungkapkan kesannya menerima tamu seperti Amel. Diriny kini mengetahui daerah lain di Indonesia selain Bali.

“Pertukaran budaya ini sangat terbuka dengan budaya, agama, dan makanan yang berbeda,” ucap Angela.

“Indonesia itu luas. Sebelumnya hanya tahu Bali tapi sekarang tahu Aceh. Saya belajar banyak dari Amel dan agamanya,” imbuh dia.

detikcom bersama beberapa media yang diundang Kedutaan Besar Australia di Jakarta untuk mengikuti Digital Indonesian Media Visit berkesempatan menyaksikan pertunjukan pemuda-pemudi peserta AIYEP di hari terakhir mereka mengikuti program tersebut di Bendigo. Sebelum di Bendigo, mereka melaksanakan program di Melbourne.

Total peserta AIYEP dari Indonesia seharusnya 18, tetapi 1 pulang karena urusan pribadi.

AIYEP diselenggarakan periode Oktober-Februari setiap tahunnya. Untuk 2018-2019, kota penyelenggara AIYEP di Australia adalah Melbourne (fase kota) dan Bendigo (fase desa).

Peserta Indonesia yang terpilih diberi kesempatan untuk menggali pengalaman kerja di Australia dan Indonesia. Mereka bekerja magang di kantor-kantor maupun institusi-institusi yang sesuai dengan latar belakang pendidikan, bakat, minat, dan keterampilan para peserta.

Untuk peserta Australia, mereka akan mendapat kesempatan sama, yaitu menggali pengalaman kerja selama dua bulan di Indonesia. Mereka akan berangkat ke Indonesia pada 2 Desember 2018 bersama peserta dari Indonesia dan akan melaksanakan program di Kabupaten Siak serta Kota Pekanbaru, Riau.
(gbr/rvk)